Jakarta, 4 November 2026 – Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Ahmad Yani, mengungkapkan bahwa sentimen negatif dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memengaruhi pergerakan saham perusahaan. Kondisi pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan menyebabkan saham emiten berkode PGEO ikut terkoreksi. Meski demikian, manajemen memastikan penurunan harga saham tidak memengaruhi fundamental maupun rencana pertumbuhan bisnis perusahaan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara pemaparan laporan keuangan kuartal III-2026 di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Ahmad Yani menjelaskan bahwa saham PGE mengalami koreksi sekitar 8,89 persen berdasarkan perhitungan yang disampaikannya dalam pemaparan tersebut. Sementara itu, pada perdagangan 4 November 2026, saham PGEO ditutup pada level Rp965 atau melemah sekitar 14,6 persen sejak awal tahun. Penurunan tersebut berlangsung di tengah tekanan besar yang melanda pasar saham domestik. Namun, perusahaan menegaskan bahwa perubahan harga saham tidak secara langsung mencerminkan penurunan kinerja operasional.
Tekanan pasar muncul setelah MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. Pengumuman pada pertengahan Oktober 2026 tersebut memicu kekhawatiran investor mengenai posisi Indonesia dalam indeks saham global. Sepanjang tahun berjalan, arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia dilaporkan mencapai Rp94,87 triliun. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan signifikan.
Di tengah gejolak pasar, PGE justru mencatatkan peningkatan produksi listrik panas bumi sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Produksi listrik dari wilayah operasi sendiri mencapai sekitar 4.113 gigawatt hour (GWh), meningkat hampir 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi rekor produksi tertinggi perusahaan. Tingkat ketersediaan pembangkit atau availability factor juga mencapai 98,51 persen, menunjukkan kemampuan operasional yang tetap terjaga.
Dari sisi keuangan, PGE membukukan pendapatan sebesar 352,20 juta dolar AS hingga September 2026 atau meningkat 10,46 persen secara tahunan. Laba bersih perusahaan tumbuh 21,45 persen menjadi 126,62 juta dolar AS. Sementara itu, EBITDA tercatat mencapai 287,77 juta dolar AS, meningkat 15,58 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bisnis perusahaan masih menghasilkan kinerja positif meskipun harga saham menghadapi tekanan.
Manajemen PGE menilai keberhasilan mempertahankan pertumbuhan produksi dan laba menjadi bukti ketahanan bisnis perusahaan. Posisi kas dan setara kas yang mencapai 713,68 juta dolar AS turut memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan proyek. Perusahaan juga mencatat penghindaran emisi sebesar 3,48 juta ton setara karbon dioksida melalui pemanfaatan energi panas bumi. Capaian tersebut memperkuat kontribusi PGE terhadap pengembangan energi bersih di Indonesia.
Ke depan, PGE tetap berkomitmen menjalankan strategi pertumbuhan dan pengembangan kapasitas pembangkit panas bumi. Manajemen menegaskan bahwa volatilitas pasar saham tidak mengubah arah bisnis maupun rencana investasi perusahaan. Meski demikian, perkembangan sentimen MSCI dan pergerakan investor asing tetap menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati. Dengan dukungan kinerja operasional dan kondisi keuangan yang positif, PGE berupaya mempertahankan pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat perannya dalam transisi energi nasional.





