Jakarta, 8 September 2026 – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kemajuan teknologi dan kapasitas pengelolaan data genomik Indonesia membuat Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Désirée kagum ketika mengunjungi fasilitas genomik di Jakarta. Indonesia saat ini memiliki kapasitas data genomik sekitar 4,5 petabyte yang ditargetkan meningkat menjadi 10 petabyte untuk mendukung pengembangan kedokteran presisi. Data dalam jumlah besar tersebut selanjutnya direncanakan dianalisis dengan kecerdasan buatan atau AI guna membantu mendeteksi risiko penyakit secara lebih dini. Budi mengatakan delegasi Swedia sebelumnya tidak menyangka Indonesia telah membangun kemampuan genomik dengan skala seperti itu. Kemajuan tersebut menunjukkan teknologi kesehatan yang sebelumnya banyak dikembangkan negara maju kini juga berkembang pesat di Indonesia.
Putri Mahkota Victoria mengunjungi Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan di Gedung Eijkman, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia hadir dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme atau UNDP dan melihat secara langsung pengembangan Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI). Program nasional yang dipimpin Kementerian Kesehatan tersebut diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis kedokteran presisi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan Indonesia menghadapi wabah penyakit. Budi mendampingi langsung kunjungan tersebut dan memaparkan perkembangan riset serta infrastruktur genomik yang telah dibangun pemerintah. Kunjungan itu menjadi bagian dari agenda Putri Mahkota Victoria selama berada di Indonesia pada 4–8 September 2026.
Budi menjelaskan perkembangan ilmu kedokteran kini memungkinkan peneliti memahami mekanisme tubuh manusia hingga tingkat materi genetik atau DNA. Jika sebelumnya teknologi sekuensing banyak digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik virus dan bakteri, kemampuan tersebut kini dikembangkan lebih jauh untuk mempelajari genom manusia yang jauh lebih kompleks. Pemahaman mengenai karakteristik genetik dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui faktor yang berkaitan dengan munculnya penyakit tertentu pada seseorang. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar diagnosis, pencegahan maupun pemberian terapi yang lebih sesuai dengan kondisi biologis masing-masing pasien. Pendekatan seperti itu menjadi fondasi penting dalam pengembangan kedokteran presisi yang sedang diperluas pemerintah melalui BGSI.
Pengembangan basis data genom nasional juga penting karena karakteristik genetik dapat berbeda di antara berbagai populasi. Menurut Budi, pemetaan tersebut dapat membantu peneliti memahami risiko penyakit dan menentukan intervensi yang lebih tepat berdasarkan karakteristik genetik seseorang. Ia mencontohkan mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara sehingga hasil pemeriksaan genetik dapat digunakan sebagai informasi untuk melakukan tindakan lebih dini. Pemerintah karena itu tidak hanya mengumpulkan data dari pasien rumah sakit, tetapi juga mulai memasukkan data masyarakat sehat untuk memperkuat basis informasi kesehatan. Kemenkes menyebut sekitar 70 juta data kesehatan telah dikumpulkan untuk mendukung pengembangan ekosistem tersebut.
Kemampuan melakukan pembacaan susunan DNA atau sequencing juga terus diperbesar seiring meningkatnya kebutuhan riset genomik. Budi menyebut kapasitas yang sebelumnya sekitar 1.500 sampel pada 2025 telah meningkat menjadi sekitar 4.500 sampel. Dalam pengembangan jangka panjang, Indonesia melalui Strategi Genom Nasional 2026–2030 menargetkan pengurutan sebanyak 400.000 genom hingga akhir dekade. Program BGSI juga telah didukung 10 pusat genomik khusus dan 29 laboratorium surveilans nasional untuk memperluas kemampuan riset serta pemanfaatannya dalam sistem kesehatan. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menghasilkan basis data yang semakin representatif terhadap keragaman penduduk Indonesia.
Besarnya jumlah informasi yang dihasilkan dari proses sekuensing membuat kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data menjadi tantangan tersendiri. Saat ini kapasitas data genomik Indonesia disebut telah mencapai sekitar 4,5 petabyte dan pemerintah menargetkannya meningkat hingga 10 petabyte. Data tersebut nantinya tidak hanya disimpan, tetapi dianalisis dengan bantuan AI untuk menemukan pola yang sulit diidentifikasi melalui analisis konvensional. Pemanfaatannya diharapkan dapat membantu mengenali risiko penyakit berat lebih awal sekaligus mendukung penelitian mengenai kesehatan dan umur panjang atau longevity. Kemampuan menggabungkan genomik, big data dan AI inilah yang menurut Budi menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Putri Mahkota Victoria selama kunjungannya.
Pengembangan genomik juga mempunyai implikasi terhadap efisiensi pembiayaan kesehatan nasional karena diagnosis dan terapi dapat diarahkan menjadi semakin tepat sasaran. Hingga awal 2026, BGSI telah merekrut lebih dari 20.000 partisipan dan menghasilkan sekitar 16.000 whole genome sequence manusia. Pemerintah memandang basis data tersebut bukan sekadar hasil penelitian, tetapi fondasi untuk mengurangi pemberian terapi yang kurang sesuai serta meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan. Pendekatan kedokteran presisi diharapkan menggeser pola pengobatan yang terlalu umum menuju penanganan yang lebih personal berdasarkan profil biologis pasien. Dalam jangka panjang, strategi tersebut berpotensi membantu meningkatkan hasil pengobatan sekaligus membuat penggunaan sumber daya kesehatan menjadi lebih efisien.
Kunjungan Putri Mahkota Victoria juga membuka peluang untuk memperluas kerja sama kesehatan antara Indonesia dan Swedia. Budi berharap ketertarikan terhadap perkembangan genomik nasional dapat dilanjutkan dalam bentuk dukungan program, pendanaan maupun bantuan teknis, terutama karena pengelolaan data genomik membutuhkan kapasitas teknologi yang sangat besar. Kolaborasi internasional dinilai dapat mempercepat pertukaran pengetahuan, penguatan sumber daya manusia dan pengembangan infrastruktur penelitian. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki keunggulan berupa populasi besar dan keragaman genetik yang dapat memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan ilmu genomik global. Pemerintah ingin potensi tersebut dikelola dengan kemampuan riset dalam negeri sehingga manfaatnya dapat kembali kepada masyarakat dan sistem kesehatan nasional.
Kemajuan yang diperlihatkan kepada Putri Mahkota Swedia menjadi gambaran transformasi riset kesehatan yang sedang dibangun Indonesia menuju pelayanan berbasis data dan kedokteran presisi. Target penyimpanan hingga 10 petabyte, pengurutan 400.000 genom sampai 2030 serta pemanfaatan AI menunjukkan skala pengembangan yang ingin dicapai pemerintah dalam beberapa tahun mendatang. Tantangan berikutnya adalah memastikan infrastruktur, tenaga ahli, tata kelola dan perlindungan data berkembang seiring dengan semakin besarnya basis informasi genomik nasional. Keberhasilan program juga akan ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan hasil penelitian menjadi deteksi dini, pencegahan dan terapi yang benar-benar dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan. Dengan penguatan tersebut, Indonesia berupaya menempatkan genomik sebagai salah satu fondasi transformasi sistem kesehatan sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan negara lain.




