Jakarta, 26 September 2026 – Perum Bulog mencatat realisasi penyerapan gabah dan beras produksi dalam negeri telah mencapai 4 juta ton setara beras. Capaian tersebut membuat Bulog memenuhi 100 persen target pengadaan yang ditetapkan pemerintah untuk 2026. Meski target telah tercapai, proses penyerapan dipastikan tidak dihentikan karena masih terdapat sekitar tiga bulan hingga akhir tahun. Bulog akan terus membeli produksi petani untuk memperkuat cadangan pangan sekaligus menjaga kepastian pasar bagi hasil panen dalam negeri.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pencapaian 4 juta ton menjadi hasil penting karena diperoleh sebelum tahun berakhir. Pemerintah sebelumnya memberikan penugasan pengadaan sebesar 4 juta ton setara beras melalui kebijakan pengelolaan gabah dan beras dalam negeri. Setelah target terpenuhi, Bulog tetap diarahkan melanjutkan penyerapan sesuai produksi yang tersedia. Kebijakan tersebut membuat angka pengadaan sepanjang 2026 masih berpeluang bertambah hingga Desember.
Perkembangan penyerapan sepanjang tahun menunjukkan peningkatan yang cukup cepat. Hingga 24 Juli 2026, pengadaan Bulog telah mencapai sekitar 3,5 juta ton setara beras atau sekitar 87 persen dari target nasional. Artinya, saat itu masih terdapat sekitar 500 ribu ton yang perlu diserap untuk memenuhi sasaran 4 juta ton. Bulog kemudian melanjutkan pembelian dari berbagai daerah hingga target tersebut akhirnya tercapai pada September.
Penyerapan gabah dan beras tidak hanya ditujukan untuk mengejar target pengadaan tahunan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat Cadangan Beras Pemerintah yang digunakan sebagai instrumen menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Pembelian produksi domestik juga memberikan kepastian pasar bagi petani ketika memasuki periode panen. Dengan pengadaan yang tetap berjalan setelah target tercapai, Bulog memiliki ruang untuk menambah cadangan yang dapat digunakan dalam berbagai program pemerintah.
Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga harga gabah sekaligus mendukung kesejahteraan produsen pangan. Dalam pelaksanaannya, Bulog bekerja sama dengan berbagai pihak di daerah untuk mempercepat proses penyerapan. Petani juga didorong melakukan panen pada usia yang tepat agar gabah yang masuk ke cadangan pemerintah memiliki kualitas yang baik.
Target pengadaan 4 juta ton pada 2026 lebih tinggi dibandingkan penugasan tahun sebelumnya yang berada pada level 3 juta ton. Pemerintah menempatkan peningkatan serapan sebagai salah satu langkah memperkuat swasembada dan ketahanan pangan nasional. Pada awal tahun, dukungan anggaran untuk target pengadaan tersebut disebut mencapai Rp39 triliun. Produksi dalam negeri menjadi prioritas sehingga kebutuhan cadangan pemerintah dapat dipenuhi dengan mengoptimalkan hasil panen petani nasional.
Dengan target tahunan yang telah terpenuhi, fokus Bulog dalam tiga bulan tersisa adalah mempertahankan momentum penyerapan sekaligus mengelola stok yang tersedia. Pengadaan lanjutan akan menyesuaikan produksi nasional, penugasan pemerintah, dan kapasitas penyimpanan yang dimiliki perusahaan. Bulog menilai keberlanjutan pembelian penting agar hasil panen tetap memperoleh pasar dan cadangan beras pemerintah semakin kuat. Karena itu, pencapaian 4 juta ton tidak menjadi batas akhir penyerapan gabah dan beras domestik pada 2026.





