Jakarta, 12 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menggaungkan gagasan “Abad Hijau” dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS sebagai arah pembangunan yang menempatkan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dalam satu kerangka yang saling mendukung. Konsep tersebut menggambarkan kebutuhan dunia memasuki era pembangunan yang tidak lagi hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan. Prabowo menilai negara-negara berkembang memiliki kepentingan besar memastikan transformasi menuju ekonomi hijau berlangsung secara adil. Pembangunan tetap diperlukan untuk menciptakan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan, tetapi harus dilakukan dengan menjaga keberlanjutan sumber daya bagi generasi mendatang. Indonesia memiliki modal besar untuk berperan dalam agenda tersebut karena mempunyai hutan tropis, sumber energi terbarukan, keanekaragaman hayati, serta potensi pertanian yang luas. Gagasan Abad Hijau sekaligus menjadi bagian dari ajakan Indonesia agar BRICS memikirkan agenda pembangunan yang melampaui 2030.
Istilah Abad Hijau pada dasarnya menggambarkan periode ketika kebijakan ekonomi semakin mempertimbangkan batas kemampuan lingkungan. Pertumbuhan produk domestik bruto tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan apabila pada saat bersamaan terjadi kerusakan hutan, pencemaran, kehilangan keanekaragaman hayati, atau peningkatan emisi secara tidak terkendali. Negara perlu menemukan model pembangunan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi tanpa terus meningkatkan tekanan terhadap alam. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui efisiensi energi, pemanfaatan sumber daya terbarukan, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, dan peningkatan produktivitas lahan. Teknologi menjadi instrumen penting karena memungkinkan penggunaan sumber daya secara lebih efisien. Namun, transformasi juga harus mempertimbangkan kondisi ekonomi setiap negara agar tidak menciptakan beban yang justru memperbesar ketimpangan.
Energi menjadi salah satu unsur utama dalam gagasan tersebut karena dunia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Indonesia sendiri membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar untuk mendukung industrialisasi, transportasi, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas masyarakat. Pada saat yang sama, potensi energi terbarukan tersedia melalui tenaga surya, hidro, panas bumi, bioenergi, dan sumber lainnya. Transisi tidak dapat dilakukan secara instan karena sistem kelistrikan dan industri telah dibangun selama puluhan tahun berdasarkan struktur energi yang ada. Pemerintah karena itu membutuhkan tahapan yang realistis agar pasokan tetap stabil selama perubahan berlangsung. Investasi dan pengembangan teknologi menjadi kunci untuk membuat energi bersih semakin kompetitif.
Prabowo juga menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan. Produksi pangan membutuhkan tanah, air, energi, pupuk, dan kondisi iklim yang mendukung. Kerusakan lingkungan dapat menurunkan produktivitas pertanian dan pada akhirnya mengancam ketersediaan pangan masyarakat. Sebaliknya, perluasan produksi yang tidak dikelola secara tepat dapat memberikan tekanan terhadap hutan dan ekosistem. Tantangannya adalah meningkatkan hasil pertanian dari lahan yang tersedia dengan teknologi dan praktik yang lebih efisien. Pengelolaan air, perbaikan irigasi, benih produktif, mekanisasi, dan pemanfaatan data dapat membantu meningkatkan produksi tanpa harus selalu memperluas area secara besar-besaran.
Indonesia memiliki posisi penting dalam pembahasan mengenai hutan tropis karena kawasan tersebut berfungsi menyimpan karbon sekaligus menjadi habitat berbagai spesies. Perlindungan hutan perlu berjalan bersama kebutuhan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sumber daya alam. Pendekatan konservasi yang mengabaikan aspek ekonomi masyarakat berpotensi sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, nilai ekonomi dapat dikembangkan melalui pengelolaan hasil hutan berkelanjutan, rehabilitasi kawasan, agroforestri, maupun mekanisme ekonomi karbon yang memiliki aturan jelas. Masyarakat lokal perlu mendapatkan manfaat agar mereka memiliki kepentingan langsung menjaga kawasan. Pengawasan juga harus diperkuat untuk mencegah pembalakan dan penggunaan lahan yang tidak sesuai ketentuan.
Konsep Abad Hijau juga berkaitan dengan industrialisasi karena negara berkembang tetap membutuhkan pertumbuhan sektor manufaktur. Indonesia ingin meningkatkan nilai tambah sumber daya dengan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi di dalam negeri. Namun, industrialisasi masa depan dituntut menggunakan teknologi yang semakin efisien dan menghasilkan emisi lebih rendah. Pabrik dapat mengurangi penggunaan energi melalui modernisasi peralatan, pemanfaatan listrik bersih, serta pengelolaan limbah yang lebih baik. Standar lingkungan global juga semakin memengaruhi akses produk ke pasar internasional. Industri yang mampu beradaptasi lebih cepat berpotensi memiliki daya saing lebih kuat ketika konsumen dan negara tujuan semakin mempertimbangkan jejak karbon.
Pembiayaan menjadi tantangan besar bagi negara Global South dalam menjalankan transformasi hijau. Pembangunan pembangkit energi terbarukan, jaringan listrik, transportasi rendah emisi, pengolahan sampah, dan infrastruktur tahan iklim membutuhkan investasi dalam jumlah sangat besar. Banyak negara berkembang memiliki ruang fiskal terbatas dan masih harus membiayai pendidikan, kesehatan, pangan, serta kebutuhan dasar lainnya. Karena itu, Prabowo mendorong kerja sama internasional yang lebih adil dalam menyediakan pembiayaan dan teknologi. Negara berkembang tidak seharusnya diminta menanggung seluruh biaya transisi sendirian. BRICS dapat menjadi salah satu forum untuk membangun alternatif pembiayaan serta memperluas kolaborasi teknologi.
Indonesia juga memiliki kepentingan besar dalam pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya domestik. Bioenergi dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus menciptakan pasar bagi sektor pertanian. Namun, pengembangannya perlu memperhitungkan keseimbangan antara kebutuhan energi, pangan, dan perlindungan lingkungan. Peningkatan produksi bahan baku tidak boleh mengakibatkan tekanan berlebihan terhadap hutan maupun kawasan bernilai ekologis tinggi. Produktivitas dan pemanfaatan lahan yang telah tersedia menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan tersebut. Standar keberlanjutan juga dibutuhkan agar produk dapat diterima di pasar internasional.
Gagasan Abad Hijau tidak berarti seluruh negara harus menggunakan satu model pembangunan yang sama. Negara maju telah melewati proses industrialisasi panjang dan memiliki kapasitas teknologi serta pembiayaan lebih besar dibandingkan banyak negara berkembang. Karena itu, prinsip keadilan menjadi bagian penting dalam pembicaraan mengenai perubahan iklim dan transisi energi. Negara berkembang membutuhkan ruang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil secara bertahap menurunkan dampak lingkungan. Transfer teknologi, investasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dapat mempercepat proses tersebut. Kerja sama internasional menjadi lebih efektif apabila target lingkungan berjalan bersama kepentingan pembangunan ekonomi.
Gagasan Abad Hijau yang disampaikan Prabowo di KTT BRICS pada akhirnya merupakan ajakan untuk membangun model pertumbuhan jangka panjang yang tidak mempertentangkan pembangunan ekonomi dengan perlindungan lingkungan. Indonesia ingin industrialisasi, ketahanan pangan, kemandirian energi, penciptaan lapangan kerja, dan konservasi bergerak dalam arah yang saling mendukung. BRICS dinilai memiliki kapasitas besar karena anggotanya mewakili populasi, sumber daya, produksi energi, dan perekonomian yang signifikan secara global. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan tersebut menjadi investasi, teknologi, kebijakan, dan proyek yang dapat diukur hasilnya. Transformasi menuju ekonomi hijau membutuhkan waktu panjang sehingga agenda tidak dapat berhenti pada target 2030. Melalui konsep Abad Hijau, Indonesia mendorong pembangunan generasi berikutnya tetap menghasilkan kemakmuran tanpa mengorbankan kemampuan alam menopang kehidupan pada masa depan.






